Postingan

Pendidik Kebencian

Gambar
news.liputan6.com Kau guru? Apa yang kau ajarkan pada muridmu? Ilmu? Ya, pastinya. Itu aku tahu. Tapi apakah hanya itu? Sadarkah kau jika setiap katamu akan ditiru? Tahukah kau bahwa setiap sikap dan perilakumu juga ditiru? Kau ingat kan jika sudah diingatkan,    ketika kau kencing berdiri, muridmu akan kencing berlari? Lalu mengapa tak kau jaga kata-katamu? Mengapa tak kau perbaiki sikap dan perilakumu? Mengapa justru kau ajarkan pada anak-anak didikmu untuk menghujat?    untuk hanya bisa menuntut?    untuk membenci para pemimpin? Mengapa tak kau beri contoh pada mereka    untuk selalu mengambil tindakan nyata?    untuk menentukan solusi dari setiap permasalahan yang ada? Atau paling tidak berperilaku yang beradab kepada para pemimpinnya?    mendoakan mereka,    menghormati dan memuliakannya,    mendengar dan taat padanya,    menasehati dan meluruskannya dengan rahasi...

Jika Memang Kau Benar

Gambar
hrexcellency.com Jika memang kau benar,      mengapa takut mengatakan kebenaran?      mengapa hatimu penuh kekhawatiran?      mengapa setiap nasehat kau anggap sindiran? Bukankah kebenaran mendatangkan ketenangan      batin dan pikiran? Tak perlu serupa orang kebanyakan. Tak perlu meniru apa yang mereka lakukan. Tak perlu mengatakan apa yang mereka katakan. Tak perlu membenarkan yang biasa, tapi biasakanlah kebenaran. Karena Alloh tak tuli, tak buta, tak akan abaikan.

Rugi

Gambar
www.pinterest.com "Pak, ini kuitansinya saya isi kosong saja, ya?" "Mengapa begitu?" "Kan nanti biar bisa disesuaikan sendiri harganya oleh bapak." "Loh, kan jelas saya membayar berapa, ya itu yang dibuat kuitansi kan, Pak?" "Sudah, tak apa-apa. Memangnya bapak tak sayang harus mengembalikan sisa uang sebanyak itu? Sudah, tak apa-apa. Nanti isi saja sesuai dengan uang yang diberikan dari kantor bapak. Sudah biasa itu. Biar bapak tak rugi juga." "Kok rugi?" "Ya rugi lah, Pak. Masak uang sebanyak itu sudah di tangan mau dikembalikan lagi. Kan rugi namanya, Pak." "Ya bukan rugi lah, Pak. Lah wong memang bukan punya saya, bukan hak saya. Rugi itu nanti kalo sudah di akhirat terus timbangan kita jadi berat ke kiri hanya gara-gara uang segini. Nah, itu baru namanya rugi." "Ah.. Bapak bisa saja."

Cukup

Gambar
pixcooler.com "Mbak, nanti bla bla bla bla bla bla, ya?" "Ah, males, Dek. Nanti kita begini, kita ikut peraturan, kita tertibkan mereka, toh sama atasan kita nanti mereka akan dibiarkan saja melenggang tanpa apa-apa. Nanti kita yang capek. Kita usaha mati-matian membuat mereka sadar hukum, tapi pada akhirnya mereka dibuat kebal hukum." "Jangan gitu dong, Mbak. Jangan males. Harus tetep semangat. Apa nggak kasihan kalo nanti anak-anak lulus jadi anak-anak yang nggak sadar hukum? Kan kasian mereka. Masak kita pendidik..." "Ah, udahlah, Dek. Aku capek. Aku lelah. Rasaku yang lelah. Sudah cukup." Kemudian aku bungkam.

Uwiez - Ei - Muti

Gambar
www.tumblrquotes.us "Untuk Uwiez, Ei, dan Muti, para manusia yang telah membuktikan bahwa darah tak selalu lebih kental dari pada air." Namanya Uwiez, Ei, dan Muti. Sebenarnya bukan seperti itu mereka dulu memperkenalkan diri pada saya ketika kami pertama kali bertemu. Tapi, saya pikir tak ada gunanya juga saya membahas bagaimana cara kami berkenalan. Yang jelas, saya pertama kali berkenalan resmi dengan mereka sewaktu duduk di kelas 2 SMA. Walaupun setahun sebelumnya, sebenarnya saya sudah tahu tentang mereka. Saya sudah tahu namanya Uwiez. Siapa coba yang tak akan menanyakan siapa namanya jika setiap hari saya melihatnya berteriak-teriak memanggil-manggil kakak kelas dari balkon depan kelasnya yang ada di lantai dua bangunan yang letaknya tepat di depan bangunan kelas saya. Hanya saja, saya tidak terlalu peduli dengannya, hanya merasa perlu tahu namanya. Saya merasa tidak ada kepentingan juga untuk mengenalnya karena toh kami tak pernah berhubungan. Wakt...

Ibuk

Gambar
www.funnydam.com Saya tak pernah menulis tentangnya. Bukan karena saya tak cinta,    hanya saja,   tak ada kata yang bisa dengan tepat menggambarkannya. Dia terlalu indah dari kata indah,    terlalu luar biasa dari kata luar biasa. Dia lebih hebat dari segala kata yang ada di dunia. Jadi mohon maafkan saya,    jika saya tak pernah menuliskan apa pun tentangnya.

Teman?

Gambar
www.pinterest.com "Itu temanmu, kan?" Aku menoleh ke arah yang ditunjuknya lalu dengan cepat kembali membuang muka. "Teman..," cibirku. "Bukannya kau dekat dengannya dulu?" tanyanya. Aku tak menjawab lagi. "Tak kau sapa dia?" "Buat apa?" tanyaku lagi, masih saja tak acuh seperti sebelumnya. "Ya kan kalian pernah dekat. Masak tak kau sapa dia?" "Memangnya harus?" tanyaku. "Sudah ah, jangan lagi kau bahas manusia sok suci itu!" Aku mulai kesal. "Sok suci?" tanyanya. Sial. Bukannya menghentikan topik ini, pernyataanku sebelumnya justru membuatnya semakin tertarik, semakin banyak bertanya. "Memangnya apa yang sudah dia lakukan?" "Dia itu sok suci." Aku membuka ceritaku dengan kalimat itu. "Tak pernah dia mau membantuku sedikit saja. Padahal kan kau tahu sendiri bagaimana dekatnya kami dulu. Kupikir teman itu saling membantu. Tapi..." "Mengap...