Postingan

Curang!

"Kalo bisa sih jangan sama dia, deh?" "Kenapa memangnya?" "Agama dia kan berbeda dari kita." "Lantas?" "Ya kalo bisa cari teman yang seagama, lah." "Kenapa memangnya?" "Ya tak apa-apa, sih... Hanya saja...." "Apa?" "Udah, ah. Kamu ini." "Aku ini? Bukannya harusnya aku yang bilang begitu?" "Kok bisa?" "Iya, dong. Kan kamu kemarin mencak-mencak sewaktu lamaranmu ditolak karena masalah agama. Kamu bilang mereka SARA-lah, tidak adil, lah. Sekarang?" "Ya ini kan beda...." "Apa bedanya? Kamu kemarin bilang kan kalo negara ini didasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa dan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya? Kamu bilang seharusnya setiap orang berhak mendapatkan kesempatan yang sama tanpa memandang latar belakang, termasuk agamanya, kan?" "..............." "Lalu?" ...

Dengarkan Diri Kita

Ketika kemarin tetangga kita meninggal, apa yang kita katakan? "Semoga Tuhan mengampuninya"? "Semoga keluarganya diberi kekuatan dan ketabahan"? "Semoga dilapangkan kuburnya"? "Semoga diterima amal ibadahnya"? begitu? atau justru seperti ini? "Leukimia? Ah, dia sih dulu suka makan sembarangan. Gorengan lah, saus yang merah-merah itu lah, terus minum c**a c**la. Lengkap sudah! Kanker semua!" "Dia sih tak pernah jaga kesehatan." "Tau rasa dia sekarang. Itu azab. Dia kan suka menyakiti orang." "Salah sendiri dia makan-makanan tak sehat." Yang mana? Coba ingat-ingat lagi. Coba dengarkan diri kita lagi. Supaya kita tak kaget jika orang mengatakan hal yang sama sewaktu kita meninggal nanti.

Yang Terlewatkan

Isi kepala, berjubel sebenarnya. Menendang-nendang ingin dikeluarkan, berjatuhan dengan deras serupa hujan. Kemuakan pada dia yang merasa tahu segalanya dan tak pernah salah. Kegalauan tentang meninggalkan. Keinginan untuk tak lagi bertahan Kejenuhan pada rutinitas yang itu-itu saja. Kejemuan pada telinga-telinga yang seolah haus pada berita tentang aib dan kebencian,    serta mulut-mulut yang tak lelah memuntahkan kebencian yang sama. Ada. Banyak. Menumpuk. Tapi lagi-lagi hari-hari hanya terlewati. Tak tertuliskan, tak tersampaikan. Tak lagi berusaha mengadakan waktu untuk mengatakan kebenaran. Ah, entahlah. Berharap saja waktu masih akan ada,   agar bisa kutuliskan rasa dalam kata.

Kata

Terlalu banyak cerita, terlalu banyak suka, terlalu banyak duka, tapi pada akhirnya yang tertuliskan hanya sedikit kata.

Masih Ada Besok

Gambar
"Dosa itu ada. Kata siapa tak ada," katanya. "Kalau kau tinggalkan yang wajib, kau jalankan yang haram, tentu saja terkena dosa." "Jadi menurutmu dosa benar-benar ada?" tanyaku. "Ada. Tentu saja ada. Kalau kau tinggalkan sholatmu, kau bergibah tentang saudaramu, tentunya kau akan menanggung dosa." "Begitu?" "Iya. Begitu. Tapi..." Ada senyuman di akhir kata-katanya yang menggantung, membuatku ingin dia segera menyelesaikannya. Aku menunggunya. "Tapi kan Tuhanmu maha baik.. Maha pengasih dan penyayang." Senyuman masih ada di wajahnya. "Dia pasti akan memaafkan jika kau bertobat. Iya, kan?" Aku mengangguk pelan. "Dan...." Lagi-lagi dia menggantung kata-katanya. "Masih ada waktu. Besok masih akan ada, kok. Jadi tenang saja. Buat saja dosa, abaikan saja perintahnya, langgar larangannya. Besok kan masih bisa bertobat. Tenang saja.." Dia mengerling padaku....

Sibuk

Gambar
www.myquotesclub.com "Tidak ada seorang pun yang sibuk di dunia ini. Ini semua, sebenarnya hanya tentang prioritas" Ada juga yang mengatakan bahwa sebenarnya 'sibuk' hanyalah sebuah mitos. Karena setiap orang akan selalu punya waktu untuk apa yang dianggapnya penting. Sibuk hanyalah alasan untuk bisa menghindari apa pun itu yang 'dianggap' tak penting. Sepertinya setiap dari kita perlu mengecek daftar prioritas di hidup kita lagi. Jika belum ada, mungkin perlu dibuat dulu. Jangan sampai pada akhirnya kita menyesal karena menempatkan hal yang sebenarnya amat sangat penting di urutan terbawah dalam hidup kita. Akhirat, misalnya.

Guru

Gambar
quoteness.com "Menjadi guru itu tak hanya membutuhkan kepandaian. Kita ini pendidik, tujuan akhir kita tak hanya membuat anak-anak didik kita pandai. Tapi, harus bisa membuat mereka memiliki hati, empati, kedisiplinan, rasa hormat dan menghargai kepada setiap orang, kesabaran, dan, yang paling penting, rasa takut pada Tuhan. Dan kau harus tahu, Nak, semua itu tak bisa hanya kita ajarkan dengan kata-kata, apalagi paksaan. Semua itu harus kita CONTOH-kan," kata seorang guru, entah sudah berapa juta detik yang lalu.