Postingan

Desember

Gambar
Solobaru, Sukoharjo (Dok. Pribadi) Hai, Desember. Lagi-lagi aku terlambat menyapamu. Ini sudah hari kesepuluh. Seharusnya aku menyapamu lebih awal. Tapi, seperti alasan kliseku sebelumnya, pekerjaanku banyak sekali. Aku bahkan melewatkan Oktober dan November begitu saja. Padahal sebenarnya ada banyak sekali cerita. Ada jutaan kata-kata yang berputar di dalam kepala. Tapi, tetap saja. Aku tetap bersembunyi di balik alasan yang sama. Tahun ini ada yang berbeda, kau tahu? Aku tak lagi sibuk membuka laman yang menjual tiket pesawat daring. Kau tahu kan bagaimana di setiap Desember seperti ini aku akan selalu berpacu, menyelesaikan pekerjaanku sambil berkali-kali mengecek harga tiket pesawat, mengatur jadwal sedemikian rupa agar di akhir bulan nanti aku bisa pulang dan menghabiskan akhir tahunku di rumah. Sekarang tidak lagi. Aku sudah di rumah. Sudah lebih dari setengah tahun ini. Makanya kubilang padamu tadi, ada banyak sekali hal yang ingin kuceritakan. Tapi sepertinya tetap a...

Bohong

Gambar
Kunden, Bulu, Sukoharjo (dokumen pribadi) "Bunda, kalo lagi puasa ga boleh bohong, ya?" "Iya," jawabku sambil menyapu halaman. "Yaudah. Kalo gitu nanti aja kalo udah buka puasa." "Apanya?" "Bohongnya. Kan katanya kalo puasa ga boleh bohong." "Ya kalo ga puasa, juga tetep ga boleh, Adek." "Ooh.. gitu. Adek kira kalo ga puasa jadi boleh bohong. Habis, kalo pas puasa kan bunda juga bilang ga boleh gibah, tapi tiap malam bunda sering gibah juga sama budhe sebelah rumah," jawabnya santai sambil menyirami tanaman depan rumah. Solo,17 Juni 2018 #Bohong #30CeritaRamadan #UtangCerita30CeritaRamadan

Daster Ungu Bercorak Kuning

Gambar
Ada robekan di bagian bawah belakang dan jahitan di beberapa tempat lainnya. Ada lagi robekan kecil di bagian perut yang dibiarkan menganga. Aku ingat seminggu yang lalu tikus menggigitinya ketika daster itu diletakkan di tumpukan pakaian kotor di belakang rumah. Ada juga tambalan di salah satu ketiaknya. Aku benar-benar tak habis pikir mengapa ibu masih juga memakai daster berwarna ungu itu. . Aku juga tak habis pikir, mengapa daster-daster ibu yang lain nasibnya tak berbeda jauh dengan si Daster Ungu Bercorak Kuning itu. Ada jahitan di sana-sini. Mengapa tak beli saja daster baru? . Aku juga tak habis pikir dengan piring-piring seng yang tertumpuk di meja makan, yang setiap hari masih ibu pakai, yang sudah ada sejak aku SD dulu, dan berlubang di sana-sini. Tak habis pikir mengapa ibu tak membuangnya saja dan membeli yang baru, tapi lebih memilih membeli stiker penambal panci di abang-abang tukang jualan perkakas di pasar. . Aku benar-benar tak habis pikir. Setiap kali kubil...

Pengemis

Gambar
Gladhag, Solo, Jawa Tengah (dokumen pribadi) . . "Paringi, Den.." . "Ibu ini, badan masih sehat begitu kok mengemis! Cari kerja sana, Bu. Jualan, kek. Apa,  kek. Jangan ngemis gitu!" katamu. "Pasti ibu ini sebenarnya uangnya banyak. Kayak yang di tv itu. Bu, puasa-puasa gini jangan nipu, Bu. Dobel-dobel dosanya! Orang mampu kok ngemis." . Wanita yang pakaiannya lusuh dan wajahnya terlihat kusam itu hanya diam menatapmu. . Lalu tiba-tiba kawanmu merogoh saku celana, mengeluarkan selembar uang dua ribuan, dan memberikannya kepada wanita itu. Wanita itu segera berlalu. . "Kalo mau ngasih, kasih aja. Kalo ga, yaudah. Bilang aja ga bisa ngasih," kata kawanmu sewaktu kalian kembali melangkah di city walk Gladag. . "Kamu tuh, mendorong mereka terus mengemis. Kamu tahu kan Alloh ga suka sama hambanya yang mengemis?" tanyamu. "Mereka itu tuh cuman pemalas aja. Sebenernya masih mampu kerja. Cuman karena males, terus masih ba...

Rumah

Gambar
Plosorejo, Sukoharjo, Jawa Tengah (dokumen pribadi) . . "Dulu kita suka mandi di sumur itu," kataku. . Aku tersenyum sendiri. Ingatan tentang masa lalu itu kemudian datang bertubi-tubi. . Di dekat sumur itu dulu ada kamar mandi. Dua. Satu bilik berisi bak mandi cukup besar. Bilik satunya hanya bak kecil. Keduanya tak berpintu. . Sekarang sumur itu berdiri sendiri. . Pintu yang ada di dekat sumur itu mengarah ke dapur. Di sisi kiri, di bawah jendela, ada tungku berbahan bakar kayu tempat simbah biasa memasak. . Aku kemudian membayangkan lebaran di rumah itu dulu. Tak pernah sepi. Ada saja suara tawa dan canda. Ada juga suara simbah yang terdengar khawatir melihat cucu-cucunya berlarian ke sana ke mari. Teriakan simbah yang menyuruh kita makan, mandi. . Dulu. . Sekarang, di lebaran kali ini, rumah ini terlihat sepi. Sama juga di beberapa lebaran sebelumnya setelah simbah akhirnya memutuskan untuk tak lagi tinggal di sana. . Banyak yang sudah berubah. Ada a...

Syawalan

Gambar
. . "Lusa mulai puasa lagi," katamu sewaktu melangkah pelan di sisiku. . Salatiga malam ini cukup ramai. Maklum malam takbiran. . "Puasa syawal, ya?" tanyaku. . "Nggak. Mau bayar hutang puasa dulu. Habis itu baru puasa syawal." . "Kok gitu? Harusnya kan puasa syawal dulu." . "Ya nggak, lah. Harusnya tuh bayar hutang puasa dulu. Masak sunnah-nya dulu baru wajibnya?" . "Bayar hutang kan bisa nanti-nanti. Ada waktu setahun. Puasa syawal kan waktunya terbatas. Ya kalo habis bayar hutang, kamu ga haid. Kalo haid lagi, bisa habis nanti bulan syawalnya." . "Ya kalo umur kita nyampe setahun? Kalo ga? Mending mati tanpa nanggung hutang puasa lah." . "Kalian ini..." Dia yang ada di antara kita mulai tak lagi tahan untuk berdiam. "Mau bayar utang dulu kek, mau puasa syawal dulu kek, ga ada yang salah. Terserah kalian." . "Kok gitu?" protesku berbarengan ...

Yang Terlupakan

Gambar
Gladhag, Solo, Jawa Tengah (Dokumen Pribadi) "Besok sudah idul fitri ya, Kak?" tanyanya tiba-tiba. Aku mengangguk dengan senyuman lebar. Berharap, dia akan tersenyum sama lebarnya denganku. Tapi, nyatanya tidak. Gadis kecil itu malah menghela napas. "Kenapa? Kok sedih?" "Aku suka kalo lagi Ramadan, Kak. Bisa ga, idul fitrinya diundur? Ramadannya ditambah lagi?" "Memangnya kenapa, Sayang?" "Habis, kalo Ramadan aku bisa makan enak terus. Setiap hari adaaa aja yang dateng ke panti ngadain buka bersama. Aku seneng kalo ada buka bersama, Kak. Tapi, habis idul fitri, mana ada yang datang ke panti lagi? Nanti kita makannya cuma sayur sama tempe tahu lagi." Aku mengelus kepalanya. "Yang penting kita bisa makan," kataku. "Ya tapi kan enak kalo tiap hari bisa makan enak. Gapapa deh aku nahan lapar dan haus seharian. Yang penting setiap buka puasa, ada yang dateng ke panti buat ngadain buka bersama. Ada yang in...