Sombong
Kedua kakiku sebenarnya sudah lelah. Tapi kalau aku berhenti
mengayuh pedal sepedaku, kesempatanku untuk meneguk air yang segar dan
mengganti cairan tubuhku yang hilang lewat keringat akan semakin tertunda.
Artinya, ginjalku harus bekerja lebih keras.
“Eh, sudah salah malah marah-marah! Kamu tau tidak? Ya gara-gara orang-orang seperti kamu ini jalanan jadi macet, kecelakaan jadi tambah banyak!” bentak polisi itu sambil berusaha mengatur jalan.
“Ya mana saya tahu! Sayakan
cuma orang bodoh yang terus-terusan diinjak!”
Aku mengirimkan SMS itu segera setelah selesai mengetiknya. Tak
lama, balasan datang.
Aku tersenyum. Aku selalu dapat melepaskan kekesalan di dalam hati setiap kali telpon atau SMS dengan Dinda, teman sekelasku, cewek yang berbagi dunia denganku sejak tiga bulan yang lalu.
PRIIIIIITT!!! Sebuah kombinasi antara suara peluit yang amat keras
dan wajah garang menghadangku setelah aku berbelok di pertigaan. Dengan
terpaksa aku menghentikan sepedaku.
“Heh, ini jalan satu arah, tau?! Nggak liat di ujung jalan tadi
ada tanda dilarang masuk?” tanya polisi itu dengan galak sambil menunjuk tanda
lalu lintas bundar berwarna merah dengan garis putih di tengah yang berdiri
tegak di ujung jalan yang tadi aku lewati.
Yah, aku sebenarnya tahu kalau ini jalan searah yang lumayan
macet. Tapi ini juga rute terpendek ke rumahku. Kalau mengikuti aturan, aku
harus berputar, mengitari alun-alun dan pasar, sehingga waktu tempuhku
bertambah kira-kira sepuluh menit. Dengan suhu siang ini yang sangat panas dan
rasa lelah di badanku, aku malas sekali kalau harus melalui rute itu. Lagipula,
apa perlu polisi itu mengingatkan dengan nada setinggi itu? Apa tidak bisa dia
mengingatkan dengan cara yang lebih sopan dan nada yang lebih rendah?
“Alah pak, pak! Mentang-mentang saya orang kecil terus dimarah-marahin,
disalah-salahin!” belaku pada diri sendiri dengan nada yang tak kalah tinggi,
membenarkan kesalahanku.
“Eh, sudah salah malah marah-marah! Kamu tau tidak? Ya gara-gara orang-orang seperti kamu ini jalanan jadi macet, kecelakaan jadi tambah banyak!” bentak polisi itu sambil berusaha mengatur jalan.
“Loh kok gara-gara saya?”
“Iya! Gara-gara kamu! Sudah tau jalan searah, masih aja ngeyel! Memang kamu pikir apa alasannya
jalan ini dijadikan jalan searah ha?”
“Ya mana saya tahu! Saya
“Hah, susah ngomong sama kamu. Sudah-sudah! Pergi sana ! Balik! Jangan lewat
sini, bikin ruwet!”
Dengan jengkel, aku membalik sepedaku dan langsung mengayuhnya
pulang. Dasar polisi sombong! Mentang-mentang aku orang miskin, orang bodoh, disalah-salahin!
Memangnya dia Tuhan?! Enak saja!
***
“Eyalah, anak-anak jaman sekarang ini kerjaannya cuma demo terus!
Mereka itu apa nggak mikir kalo orang tua mereka itu susah payah nyari duit.
Bukannya sekolah yang bener, malah demo terus!” suara bapak dari depan televisi
menyambutku pulang.
Aku mampir sebentar ke hadapannya untuk memberikan salam lantas
langsung berlari ke dapur, meraih kendi air dari tanah liat dan meneguk habis
isinya. Segar sekali.
“Ya ampun, Le. Masak air sekendi kamu habiskan sendiri?” Ibu
geleng-geleng kepala melihat tingkahku. Tapi senyum berkembang di bibirnya.
Aku meletakkan kendi dan segera meraih tangan ibu untuk menciumnya
penuh hormat.
“Keringetmu, Le. Badanmu teles
kabeh! Cepet salin baju sana .”
“Iya, Bu.”
Aku melemparkan tas begitu saja ke kamar dan langsung menuju kamar
mandi untuk mengguyur badanku. Tak lama kemudian aku sudah duduk di sisi bapak,
menonton berita di televisi.
“Liat itu, Le. Di Jakarta ada demo lagi. Mahasiswa-mahasiswa jaman
sekarang ini kerjaannya kok cuma demooooo terus. Daripada teriak-teriak kayak
gitu mbok duduk di kelas. Jaman susah kayak gini, harusnya mereka itu bantuin
orang tua, belajar yang rajin, nggak usah neko-neko, lulus nilainya bagus terus
jadi pegawe negri. Pake demo-demo segala. Kamu besok kalo jadi mahasiswa, nggak
usah kayak mereka. Bapak itu susah-susah nyari duit buat biaya kamu sekolah
biar kamu belajar, bukan jadi tukang demo kayak gitu.”
Aku diam saja, hanya mengangguk, mengamini kata-kata bapak.
“Oiyo, Masmu hari ini katanya pengumuman seleksi PNS?” Bapak menyulut
sebatang rokok lalu menghisapnya dalam-dalam.
“Pengumuman yang lolos pemberkasan kok, Pak,” jawabku.
Pembicaraan kami terpotong oleh suara langkah memasuki gubug kami
yang reyot ini. Mas Agus masuk dengan wajah kesal dan kecewa.
“Piye, Le?” tanya bapak
saat menyambut salam Mas Agus.
“Mboten lolos, Pak,”
jawab Mas Agus setelah mencium tangan bapak.
Mas Agus melangkah ke dalam kamar. Aku menyusulnya lalu duduk di
atas tempat tidur.
“Ya sudah, Mas. Tahun depan kan
masih ada kesempatan,” kataku berusaha menenangkan Mas Agus.
“Aku sudah males. Paling-paling juga nggak beda sama yang
sekarang.” Mas Agus melepas kemeja warna biru yang tadi melapisi tubunya.
“Lha emang yang sekarang kenapa, Mas?” tanyaku bingung.
“Mosok yang lolos itu masih ada hubungan sama atasan semua. Lak yo nggak mungkin kalo cuma
kebetulan!” Mas Agus membanting kemejanya ke lantai. “Memang nasib kita aja
yang jelek; jadi orang miskin. Orang miskin memang cuma bisa jadi injak-injakan,
jadi hina-hinaan.”
Aku menunduk, tidak berani menatap wajah Mas Agus. Pasti wajahnya
penuh amarah, sama seperti ketika dia diolok-olok oleh teman-teman kuliahnya
karena harus naik sepeda onthel ke
kampus.
Hah, memang menyebalkan sekali jadi orang miskin. Setiap hari
hanya diinjak-injak saja tanpa bisa berbuat apa-apa. Aku melangkah ke dalam
kamar, menyambar telpon genggam yang tadi aku letakkan di atas meja belajar,
lalu membawanya ke atas tempat tidur.
Gi
ngapain? Dah mkn lum?
Ni lg
mkn. Kmu dah makan blm?
Aku tersenyum. Aku selalu dapat melepaskan kekesalan di dalam hati setiap kali telpon atau SMS dengan Dinda, teman sekelasku, cewek yang berbagi dunia denganku sejak tiga bulan yang lalu.
Males
mkn. Lg kesel ni. Eh, hbs ni aq tlpn ja ya? Bntr.
SMS itu aku kirim dan tak lama kemudian aku menelponnya.
Cerita-cerita tentang kekesalanku langsung mengalir, mulai dari dimarahin
polisi, sampai cerita Mas Agus yang tidak lolos pemberkasan CPNS. Semuanya.
***
Kelas sudah ramai dan ribut sekali sewaktu aku datang.
Teman-temanku bergerombol di pojok depan kelas yang jauh dari pintu masuk,
sebagian duduk, sebagian lagi berdiri. Mereka sepertinya mengelilingi seseorang.
Wajah mereka begitu penuh emosi, ada sedikit semburat amarah dan semangat.
“Ada
apa?” tanyaku pada Dino, teman sebangkuku yang kebetulan berdiri di paling
belakang kerumunan.
“Ini, tentang keputusan kepala sekolah yang baru,” katanya.
“Apaan?”
“Seragam sekolah dan buku harus beli di sekolah, nggak boleh beli
di luar lagi. Padahal tau sendiri kan
kalo semua guru menuntut kita untuk punya buku sendiri-sendiri?”
Orang miskin lagi yang kena. Kenapa sih orang-orang besar itu kalo
bikin aturan nggak pernah mikirin nasib orang-orang miskin seperti aku?
“Hal-hal seperti ini, yang menyangkut kepentingan orang banyak,
seharusnya kan
dibicarakan bersama-sama dulu, nggak seperti ini. Ini namanya semena-mena,”
komentar Nino yang adalah anak emas sekolah karena telah menghadiahi sekolah medali
emas dari olimpiade matematika internasional.
“Kita nggak bisa diam saja, Ko. Ini bukan pertama kalinya Pak
Kepsek berlaku semena-mena. Inget nggak waktu ada jam tambahan sore di
sekolahan dan kita harus membayar dan yang ikut jam tambahan selalu lulus
ulangan dan yang nggak ikut nggak? Inget nggak kalo ternyata soal ulangan udah
dikasih waktu jam tambahan?” Rere, cewek mungil yang berani menentang siapa
saja yang dia anggap salah, menambahi.
Eko, ketua kelasku yang merangkap menjadi sekretaris OSIS,
menghela napas. “Kemarin itu sebenarnya pengurus OSIS dan beberapa guru sudah
duduk bersama membicarakan hal ini. Kita juga udah ngundang Pak Kepsek tapi
beliau berhalangan hadir,” jelasnya.
“Kita harus demo, Ko. Ini sudah kelewatan!” Rere berapi-api.
Aku menjauh dari kerumunan, meletakkan tasku di atas meja, lalu
duduk. Beberapa pasang mata melirikku, nampak tidak setuju dengan aku yang
tidak peduli dengan apa yang sedang mereka lakukan dan rencanakan. Demo? Amat
sangat tidak penting. Mending juga sekolah yang bener, lulus, terus kerja. Baru
SMA saja sudah pada mau jadi demonstran. Ini pasti gara-gara pengaruh beberapa
demonstrasi mahasiswa yang sering diberitakan di televisi itu.
“Kita mau demo, Mad,” kata Dino sambil menjatuhkan diri di kursi
sebelahku.
“Demo? Berarti nggak ada pelajaran?” tanyaku.
“Selama demo ya nggak lah,” Dinda yang duduk di bangku sebelah
menjawabku.
“Huh, rugi dong aku!” keluhku. “Ngapain sih demo-demo segala?
Bikin ribut!”
“Kok kamu ngomong gitu sih, Mad? Kita kan demo untuk memperoleh keadilan. Kita itu
sudah berkali-kali dizalimi. Kita harus melawan.” Dinda nampak kesal
menanggapiku.
“Halah, orang miskin macam kita ini bisa apa to, Din? Udahlah. Nggak usah neko-neko.
Nrimo ing pandum saja.”
“Ah, kamu ini, Mad.
Dari dulu nggak berubah. Tiap hari ngeluh terus yang katanya diinjak-injak
orang dengan semena-mena lah, yang jadi korban kesombongan orang kaya lah. Tapi
waktu ada kesempatan untuk berjuang kamu nggak mau berjuang. Kalo kamu nggak mau
berjuang untuk perubahan, jangan mengeluh!” Dino mengeluarkan buku dari dalam
tas sekolah.
Pembicaraanku dengan Dino harus dihentikan karena bel tanda
pelajaran dimulai berbunyi.
***
“Hape kok ditenteng-tenteng. Mau pamer?” cibirku sewaktu melihat
seorang cewek melintas di hadapanku dengan sebelah tangan menggenggam telpon
seluler. Malam minggu seperti ini memang paling asik nongkrong di mall. Bisa
menghabiskan waktu berdua dengan Dinda dan melampiaskan kekesalanku pada
orang-orang kaya sombong yang aku temui.
“Ih, kamu kenapa sih? Biarin aja. Hape-hape dia sendiri juga,”
sambut Dinda.
“Lah kan
dikantongi bisa. Kenapa juga harus ditenteng-tenteng kayak gitu?”
Dinda menghela napas. Dia menyeruput kopi moca-nya.
“Amad, aku sudah nggak tahan lagi. Aku mau dunia yang lain,”
ucapnya setelah meletakkan cangkirnya di meja.
Butuh waktu beberapa detik buatku untuk memahami apa yang
diucapkan Dinda barusan. Dia memutuskan hubungan istimewa kami.
“Aku sudah tahu bakalan begini. Dulu waktu mau nembak kamu, sudah
ada yang memperingatkan aku,” kataku.
“Maksud kamu?”
“Iya. Sebenarnya beberapa orang sudah memperingatkan kalo kita
berdua ini berbeda. Kamu nggak bakalan tahan tinggal di dunia aku. Aku ini cuma
orang miskin yang nggak punya apa-apa. Sedangkan kamu orang kaya.”
Aku mendengar Dinda menghela napas lagi. Kali ini ada nada kesal
di helaan napasnya.
“Ini yang bikin aku nggak tahan sama kamu. Kamu itu terlalu
sombong.”
Aku tersentak. “Sombong?” tanyaku, tidak memahami ucapan Dinda
barusan. “Mana mungkin aku sombong? Apa yang bisa aku sombongkan? Aku nggak
punya apa-apa, Din. Aku ini orang miskin.”
“Itulah. Kamu terlalu sombong dengan kemiskinan kamu. Bahkan
ketika melakukan kesalahan dan diberi masukan oleh orang lain pun, kamu tetap
sombong. Segala hal selalu kamu kaitkan dengan kemiskinan kamu. Apa hebatnya
sih jadi miskin? Kenapa kamu begitu sombong?”
“Aku nggak ngerti maksud kamu, Din.” Aku membuang muka, enggan
menatap wajah Dinda yang sebelumnya selalu bisa menentramkan hatiku.
“Setiap kali pergi sama kamu, aku harus mendengar keluhanmu
tentang betapa menderitanya hidup kamu, tentang betapa kamu sering
diinjak-injak dan dihina orang karena kamu miskin, tentang betapa sombongnya
orang-orang yang kamu anggap kaya.” Dinda menghela napas lagi. “Kemarin juga
waktu kamu cerita dimarahin polisi, kamu juga bilang kalo polisi itu sombong
gara-gara marah-marahin kamu. Padahal kamu juga bilang sendiri kalo kamu yang
melanggar aturan.” Lagi-lagi Dinda menghela napas. “Waktu sekolah kita ada demo
kemarin, kamu kemana?”
“Di rumah. Ngapain aku ke sekolah kalo nggak ada pelajaran? Buat apa
demo?”
Dinda geleng-geleng kepala. “Itu juga bentuk kesombongan kamu.
Kamu terlalu sombong untuk mau berjuang, bahkan di dalam perjuangan yang
memperjuangkan nasib kamu sendiri!”
Rasanya seseorang melemparkan pisau ke arah jantungku. Pisau itu
menohok, dalam dan menyakitkan.
“Baiklah. Kita berpisah di sini. Berpikirlah. Tuhan sudah
memberimu karunia otak yang cerdas untuk berpikir. Jadi berpikirlah.” Dinda
berdiri. “Oiya, kamu tadi nanya demo buat apa?”
Aku mengangguk.
“Buat menyuarakan keinginan kita semua dan mengingatkan
orang-orang yang berbuat salah agar sadar, supaya ada perubahan, dan supaya
keinginan kita nggak cuma jadi keluhan-keluhan yang nggak bisa didengar orang lain!”
Dinda lantas melangkah pergi meninggalkan aku.
Aku?
Sombong? tanyaku
pada diriku sendiri. SOMBONG
– TAMAT (15 Agustus 2010)
Komentar