Postingan

Kehilangan, Berduka, dan Segala Hal

Gambar
Kata orang, guru yang paling bagus itu adalah pengalaman. Itu benar. Dua kali semester genap yang lalu saya mendapatkan amanah untuk mengajar tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan kehilangan dan berduka. Secara teori, saya sudah tahu tentang kehilangan dan berduka. Saya sudah hafal apa penyebabnya, apa hubungan keduanya, fase-fasenya, dan apa efeknya bagi pasien yang mengalami hal tersebut. Saya sendiri sebenarnya juga sudah berulang kali mengalami sendiri apa itu kehilangan dan berduka. Tapi yang saya pelajari dari pengalaman saya sebelumnya hanya bahwa setiap kehilangan akan menyebabkan proses berduka serta tahapan berduka akan selalu dimulai dengan pengingkaran dan diakhiri dengan penerimaan. Pengalaman kehilangan saya yang terakhir memberi pelajaran nyata lain kepada saya, pelajaran yang sebelumnya sebenarnya ada tapi tidak terlalu saya perhatikan; respon sosial kepada klien yang mengalami kehilangan dan berduka yang awalnya hanya saya baca teorinya di...

Untungnya Kamu....

Gambar
“Kamu tadi nangis, nggak?” 10 Oktober 2014. Saya tengah berusaha menikmati makan siang saya ketika Rifa, sahabat saya melemparkan pertanyaan yang tidak saya duga sebelumnya itu. Perempuan kurus itu bertanya dengan kedua mata yang menatap lurus ke saya masih dengan tatapan iba, tatapan yang sama yang dia dan beberapa orang yang saya temui seharian itu yang mendengar kabar bahwa kamar kos saya dimasuki pencuri. Siang itu saya tertawa kecil dan menggeleng karena sewaktu pagi harinya saya terbangun lantas menemukan pintu kamar dan lemari saya terbuka serta tas kerja dan segala isinya bersama kedua telpon genggam dan isi dompet saya telah berpindah tangan tanpa saya ketahui kepada siapa, saya memang tidak menangis. “Kok bisa, sih?   Duh, kalo aku yang kemalingan dan kehilangan semua barangku, aku udah pasti nangis. Kamu tahu kan aku kayak apa orangnya?” katanya lagi dan lagi-lagi saya tertawa kecil, tapi kali berikutnya itu kepala saya terangguk. Tiga tahun hidup b...

November Kemarin Kosong

Gambar
November kemarin kosong. Lebih tepatnya saya biarkan kosong, saya lewatkan begitu saja. Padahal sebenarnya ada banyak sekali hal yang terjadi pada saya, yang sangat ingin saya tuliskan di sini. Tapi karena ada terlalu banyak hal, saya tidak sempat menuliskannya. Ah, alasan. Sebenarnya bukan karena terlalu banyak hal. Tapi karena terlalu banyak alasan saja. Seharusnya saya bisa saja menuliskannya. Seharusnya, saya bisa saja memberi waktu bagi diri saya untuk menulis. Tapi ya itu tadi. Terlalu banyak alasan. Sama seperti biasanya. Sama seperti biasanya. Sama seperti bagaimana banyaknya alasan yang saya buat untuk menunda sholat saya, menunda rencana baik saya yang lain, menghabiskan jutaan detik yang sebenarnya berharga hanya untuk melakukan hal-hal tidak penting dan kemudian bersembunyi di balik alasan. Alasan apa pun. Dan hari ini Desember sudah datang. Sudah sejak dua hari yang lalu malah. Dan saya masih saja bersembunyi di balik alasan. Tidak, tidak. Tidak lagi. Mulai beso...

Revolusi Mental

Gambar
“Revolusi mental,” cemoohku. “Revolusi mental apanya? Mental bobrok gitu. Masak ngerokok di depan kamera? Masak perempuan pamer tato?” Kamu hanya tersenyum, tak menanggapiku. Kedua mata yang kamu sembunyikan di   balik kaca mata minus itu masih saja menekuni berita yang ada di surat kabar. “Ini lagi, ngajarin nggak rapi. Masak di acara resmi kayak gitu kok bajunya pada nggak dimasukin? Berantakan.” Aku mendengus. “Revolusi mental,” cemoohku. Masih tidak ada komentar darimu. “Mau revolusi mental gimanaaaaa kalau menterinya SMA aja nggak lulus?” Aku mengganti saluran televisi. “Revolusi mental,” cemoohku. Surat kabar yang tadinya terbuka lebar di meja di hadapanmu itu akhirnya kamu tutup. Kaca mata yang menghiasi wajahmu akhirnya kamu lepas, kamu lipat baik-bauk dan kamu masukkan ke dalam tempatnya yang berwarna hitam. Kedua tanganmu lantas kamu lipat di atas meja dan senyuman kemudian menghiasi wajahmu. “Yah, memang sebenarnya tidka etis juga ketik...

Mengapa?

Gambar
Mengapa kau tanya mengapa saat aku mengguncangkan tanahku? Bukannya aku tak pernah bertanya mengapa saat kau rusak gunung-gunungku? Mengapa kau tanya mengapa saat aku luapkan air sungai ke rumah-rumahmu? Bukannya aku tak pernah bertanya mengapa saat kau lemparkan sampah-sampah itu ke dalam sungai dan lautku? Mengapa kau masih saja bertanya mengapa saat kukirimkan kabut asap padamu? Bukannya aku tak pernah bertanya mengapa saat kau bakar hutan-hutanku? Ah, mengapa pula kau tanya mengapa saat aku xypeq#wtsreu$dnc% padamu? Bukannya aku tak pernah bertanya mengapa saat kau me-lkdjrhncmfpr%#28 ku? Ternate, 14 Oktober 2014 at 04:44 PM #Mengapa