Postingan

Memainkan Rasa

Gambar
  Kemarin pagi, untuk pertama kalinya saya memarahi mahasiswa di dalam kantor karena permasalahan registrasi perkuliahan semester pendek. Yah, sebenarnya kesalahan mahasiswa ini tidak terlalu parah. Dia hanya terlambat datang registrasi sehingga namanya tidak saya masukkan dalam daftar hadir perkuliahan dan pagi ini dia menuntut saya untuk membuatkan daftar hadir yang baru. Mungkin karena cara dia meminta yang bagi saya kurang sopan, makanya saya agak terpicu untuk marah padanya tadi. Apalagi, sebenarnya sebelum saya mencetak daftar hadir kuliahnya, saya sudah menghubunginya berulang-ulang tetapi dia tidak merespon. Dan sialnya dia adalah, tamu bulanan saya sedang datang jadi emosi saya lebih mudah terpicu. Oke, sebenarnya inti dari postingan saya kali ini bukan tentang mahasiswa ini, tapi komentar salah seorang teman kerja saya begitu mahasiswa itu meninggalkan kantor. “Na, marahmu itu tadi terlalu lembut,” katanya. “Pantesan anak-anak pada nggak takut sama kamu.” Say...

Ah, Sudah Biasa....

Gambar
“Nduk, ponakanmu itu loh. Hla wong gempa banter banget, pas bobok tak angkat metu seko ngomah kok bareng tangi mung komen, ‘Ah, Titi. Cuma gempa aja, kok. Udah biasa’!” (“Nduk, ponakanmu itu loh. Orang gempa keras sekali, waktu tidur ibu angkat keluar dari rumah, begitu bangun dia hanya berkomentar,’ Ah, Titi. Cuma gempa aja, kok. Udah biasa’!”) Beberapa hari yang lalu ibu saya menelpon dan melaporkan hal itu pada saya. Ceritanya, akhir minggu kemarin, karena ada libur agak panjang, ibuk menginap di rumah kakak saya di Pacitan Jawa Timur, melepas kangen dengan anak dan cucu-cucunya. Kata ibuk, malam itu Pacitan gempa dengan goyangan yang lumayan keras sehingga dengan panik ibuk menggendong keponakan saya keluar rumah. Kata ibuk, begitu gempa reda dan ibu kembali membawanya masuk ke dalam rumah, ponakan saya berkomentar seperti itu. Katanya, dia sudah terbiasa dengan gempa seperti itu. Sudah biasa… Kalimat ini mungkin terdengar begitu simpel dan sangat ‘biasa’. Tapi t...

Tunggu Aku!

Gambar
Bel masuk baru saja berbunyi tapi Ewiek sudah banget sama si Dia. Hari ini bakalan panjang buat Ewiek. Dua jam pertama ada Kimia. Lumayan menyenangkan, sih! Soalnya yang mengajar adalah guru yang lumayan menyenangkan. Biar jayus, tapi asik. Ewiek emang seneng, tapi Ewiek bakalan lebih seneng lagi kalo si Dia ada di sini. Ewiek bakal lebih seneng lagi kalo dia bisa memeluk si Dia erat kayak kemaren. “Eh, Kunyuk! Diliatin ama guru, tuh! Ngelamun aja!” kata teman sebangku Ewiek sambil menyikut lengannya pelan. Ewiek tersadar. Bayangan si Dia mulai ilang, tertutup sistem periodik unsur, konfigurasi elektron dan elektron valensi. Ganti jam pelajaran; BAHASA INDONESIA!!! Membayangkan dua jam lagi harus dilalui sama guru bawel yang kalo ngomong sering nyakitin ati banget, membuat Ewiek makin kangen sama si Dia. Untungnya ntar separo pelajaran ini bakal kepotong istirahat. Kira-kira kamu kangen aku nggak, sih? Kamu pengin ketemu aku nggak, sih? Pasti! Iya, kan? Kamu pasti pengin k...

Urgen!!!

Gambar
  Salah satu mata kuliah yang saya sukai selama saya kuliah di keperawatan adalah Dokumentasi dalam Keperawatan. Saya menyukai mata kuliah ini karena dari sini saya belajar banyak hal yang bisa saya aplikasikan dalam kehidupan saya. Pendokumentasian proses keperawatan memiliki beberapa prinsip yang menurut saya sangat bagus sekali ketika saya apikasikan tidak hanya dalam hal pekerjaan saya sebagai perawat, tetapi juga dalam hidup saya. Selain prinsip-prinsipnya, hal yang membuat saya jatuh cinta pada mata kuliah ini adalah adanya materi tentang cara memprioritaskan masalah.   Prinsip Prinsip dokumentasi keperawatan terdiri dari tiga hal, yaitu brevity, legidibility, dan accuracy. Brevity oleh para ahli diartikan sebagai ringkas. Maksudnya, dalam melakukan pendokumentasian proses keperawatan, seorang perawat cukup hanya menuliskan apa yang dibutuhkan, tidak perlu memasukkan kata atau kalimat yang tidak perlu. Dalam hidup, saya rasa prinsip ini juga perlu di...

Di Ujung Pelangi

Gambar
Aku melemparkan pandangan ke luar jendela untuk kesekian kalinya. Hari ini langit mendung, membuatku tidak bersemangat mendengarkan kata-kata Pak Tri yang sedang menerangkan tentang bangun ruang di depan kelas. Lebih parahnya, mendung ini sepertinya juga membuat kesedihanku menjadi-jadi. Sudah berbulan-bulan aku teracuni oleh kesedihan ini; aku merindukanmu. Aku sangat ingin melihat senyummu, mendengar suaramu, merasakan sentuhan tanganmu di kepalaku. Mungkin, ini saatnya aku pergi menemuimu. Buku catatan yang sama sekali tidak aku gunakan seharian ini langsung aku masukkan ke dalam tas   begitu guru yang sudah mengajar selama dua jam itu mengakhiri pelajaran. Aku harus segera menemuimu sebelum hujan turun. Lebih tepatnya, sebelum pelangi datang karena sebenarnya, setiap kali ada pelangi, yang aku inginkan adalah berdiam di sisimu, bersamamu menikmati pelangi. Hanya saja, beberapa bulan ini aku menahan keinginan itu. Aku masih kesal padamu. Kamu pastinya masih ingat. Hari...